Powered By Blogger

Kamis, 03 November 2016

TYPOID PADA ANAK

Makalah keperawatan anak dengan kasus typoid



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Lingkungan yang sehat merupakan lingkungan yang pertumbuhan bakteri dan virus akan lebih sedikit untuk berkembang biak. Begitupun dengan bakteri salmonella typhi penyebab demam tifod akan lebih banyak terdapat pada lingkungan yang kotor dan tingkat perilaku hidup bersih sehat sangat kurang sehingga kuman tersebut akan banyak terdapat disana. Kurangnya menjaga kebersihan lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih sehat akan menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri, khususnya lingkungan mereka akan lebih rentan terkena penyakit.
Demam tifoid  menjadi masalah kesehatan, yang umumnya terjadi di negara yang sedang berkembang karena akibat kemiskinan, kriminalitas dan kekurangan air bersih yang dapat diminum. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Typhoid ?
2.      Apa penyebab Typhoid ?
3.      Bagaimana tanda dan gejala Typhoid ?
4.      Bagaimana manifestasi klinis dari Typhoid ?
5.      Komplikasi apa saja yang terjadi pada penderita demam Typhoid ?
6.      Bagaimana penanganan atau pencegahan demam Typhoid ?
1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian demam tifoid
2.      Untuk mengetahui apa saja penyebab dari demam tifoid
3.      Untuk mengetahui gejala dan tanda  yang terjadi pada demam tifoid
4.      Untuk mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid
5.      Untuk mengetahui komplikasi yang disebabkan oleh demam tifoid
6.      Untuk mengetahui pencegahan atau penanganan demam tifoid



























BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian
Thipoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran.(Mansjoer, 2000: 432).
Demam typoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai denganbakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukanmikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal ileum. Disebabkan salmonella thypi, ditandaiadanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.(Soegijanto, 2002: 1).
Demam typoid adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang di awali di selaput lendir usus,dan jika tidak di obati secara progresif akan menyerbu jaringan di seluruh tubuh.(Tambayong, 2000: 143).
Demam typoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi salmonella typhi.( Ovedoff, 2002: 514).

2.2 Penyebab
Penyakit tifus disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typhosa, basil gram negatif, berflagel (bergerak dengan bulu getar), anaerob, dan tidak menghasilkan spora. Bakteri tersebut memasuki tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan manusia merupakan sumber utama infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit saat sedang sakit atau dalam pemulihan. Kuman ini dapat hidup dengan baik sekali pada tubuh manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit, namun mati pada suhu 70°C maupun oleh antiseptik. Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi (Soedarto, 1996). Terdapat ratusan jenis bakteri salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu:
1.      Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
a.       antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida) : merupakan polisakarida yang sifatnya spesifik untuk grup Salmonella dan berada pada permukaan organisme dan juga merupakan somatik antigen yang tidak menyebar
b.      antigen H : terdapat pada flagella dan dan bersifat termolabil
c.       antigen V1 (merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O terhadap fagositosis) dan protein membrane hialin.
2.      Salmonella parathypi A
3.      salmonella parathypi B
4.      Salmonella parathypi C

2.3 Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Demam tifoid disebabkan karena Salmonella Typhosa dan endotoksinnya merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Zat pirogen ini akan beredar dalam darah dan mempengaruhi pusat termoregulator di hipotalamus yang menimbulkan gejala demam.
2.4 Tanda dan Gejala
Pada penderita yang terkena penyakit demam tipoid, biasanya akan terlihat gejala dan tanda yang terjadi, yaitu :
1.      Demam berkepanjangan, pada penderita demam tipoid akan di temukan demam yang lebih dari 7 hari. gejala ini merupakan gejala paling menonjol dari penyakit demam tipoid. demam biasanya di ikuti dengan gejala yang tidak khas, seperti  anoreksia ( susah menelan ) atau batuk - batuk. dan biasanya demam akan muncul pada waktu sore hari sampai malam hari,  dan akan menurun pada waktu pagi hari dan siang hari.
2.      Gangguan Saluran Pencernaan, kuman salmonella typhi merupakan kuman yang menyerang pada saluran pencernaan, sehingga pada demam ini akan terjadi gangguan saluran cerna. gejala yang sering timbul adalah konstipasi (yaitu sulit buang air besar) atau obtipasi. namun terkadang juga bisa di temukan pasien dengan gejala diare. gejala lain pada saluran pencernaan yang kadang terjadi adalah mual, muntah, dan perasaan tidak enak diperut.
3.      Gangguan Kesadaran, pada kondisi yang gawat biasanya pasien akan mengalami gangguan kesadaran ringan, seperti apatis, sopnolen hingga bisa koma.
4.      Tipoid tag yaitu gejala berupa lidah kotor terutaman di tengah sedangkan pinggir lidah akan terlihat merah.
5.      Bradikardi relatif, yaitu penurunan nadi pada waktu demam yang seharusnya secara fisiologis terjadi takikardi.
Jika dilihat dari Waktunya Gejala dan tanda tipoid dapat di bagi menjadi :
·         Minggu pertama ( masa terinfeksi, setelah masa inkubasi lebih dari 10 hari ), gejala yang akan timbul adalah :
1.      Demam perlahan.
2.      Bradikardi relatif / bisa juga takikardi.
3.      Malaise.
4.      Sakit kepala.
5.      Hidung berdarah.
6.      Leukopenia.
7.      Konstipasi / diare

·         Minggu ke dua, gejala yang akan timbul adalah :
1.      Demam " nervous fever "
2.      Rose spot atau kemerahan di tubuh.
3.      Diare / konstipasi.
4.      Bradikasdi relatif.
·         Minggu ke tiga, gejala yang akan timbul adalah :
1.      Pendarahan Intestinal, biasanya gara - gara terlepasnya ulkus di usus penderita.
2.      Perforasi intestinal.
3.      Pada masa ini, jika pasien diobati dengan baik, demam akan turun pada akhir minngu.
4.      Namun jika pasien tidak di tangani secara adekuat, maka akan bisa terjadi penyakit seperti ensefalitis, endokarditis, kolesistitis. abses metastak.
·         Minggu ke empat, merupakan masa penyembuhan hingga menjadi karrier.
2.5 Manifestasi Klinik
1.      Demam  lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam  tinggi.
2.      Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3.      Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4.      Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5.      Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6.      Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.

2.6 Komplikasi Yang Dapat Terjadi
1.      Di usus halus
Umumnya jarang terjadi, namun sering fatal, yaitu :
a.       Perdarahan usus
Diagnosis dapat ditegakkan dengan :
v  Penurunan TD dan suhu tubuh
v  Denyut nadi bertambah cepat dan kecil
v  Kulit pucat
v  Penderita mengeluh nyeri perut dan sangat iritabel
b.      Perforasi usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelah itu dan terjadi pada bagian distal ileum.
c.       Peritonitis
Pada umumnya tanda gejala yang sering didapatkan:
v  Nyeri perut hebat
v  Kembung
v  Dinding abdomen tegang (defense muskulair)
v  Nyeri tekan
v  TD menurun
v  Suara bising usus melemah dan pekak hati berkurang
        Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan peningkatan lekosit dalam waktu singkat.
2.      Diluar usus halus
a.       Bronkitis, terjadi pada akhir minggu pertama.
b.      Bronkopneumonia, kasus yang berat bilamana disertai infeksi sekunder
c.       Kolesistitis
d.      Tifoid ensefalopati, gejala : kesadaran menurun, kejang-kejang, muntah, demam tinggi
e.       Meningitis, gejala : bayi tidak mau menetek, kejang, letargi, sianosis, panas, diare, kelainan neurologis.
f.       Miokarditis
g.      Karier kronik

2.7 Penanganan dan Pengobatan
1.      Pasien tanpa komplikasi dapat diobati secara rawat jalan. Mereka harus disarankan untuk menggunakan teknik mencuci tangan yang ketat dan untuk menghindari menyiapkan makanan untuk orang lain selama sakit. Rawat pasien harus ditempatkan di isolasi kontak selama fase akut infeksi. Tinja dan urine harus dibuang secara aman.
2.      Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif melipu+ti istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung penyulit yang terjadi). Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurag lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
3.      Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien.
4.      Pada penderita penyakit tifus yang berat, disarankan menjalani perawatan di rumah sakit. Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit tifus. Waktu penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.
5.      Tifus dapat berakibat fatal. Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan ciproloxacin sering digunakan untuk merawat demam tipoid di negara-negara barat. Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem, azithromisin dan fluorokuinolon.  Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14 hari. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol , diber ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari, atau amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
6.      Pada kasus berat, dapat diberi seftriakson dengan dosis 50 mg/kg BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari, sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari. Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan antibiotika adalah meropenem, azithromisin dan fluoroquinolon.
7.      Bila tak terawat, demam tifoid dapat berlangsung selama tiga minggu sampai sebulan. Kematian terjadi antara 10% dan 30% dari kasus yang tidak terawat. Vaksin untuk demam tifoid tersedia dan dianjurkan untuk orang yang melakukan perjalanan ke wilayah penyakit ini biasanya berjangkit (terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin).
8.      Pengobatan penyulit tergantung macamnya. Untuk kasus berat dan dengan manifestasi nerologik menonjol, diberi Deksametason dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/kg BB, intravena perlahan (selama 30 menit). Kemudian disusul pemberian dengan dosis 1 mg/kg BB dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali pemberian. Tatalaksana bedah dilakukan pada kasus-kasus dengan penyulit perforasi usus
9.      Pembedahan biasanya dilakukan dalam kasus perforasi usus. Kebanyakan ahli bedah lebih suka sederhana penutupan perforasi dengan drainase peritoneum. Kecil usus reseksi diindikasikan untuk pasien dengan perforasi ganda.

2.8  Pencegahan
·         Cuci tangan Anda berulang kali. Ini adalah cara terbaik untuk menghentikan penularan bakteri. Cucilah tangan secara menyeluruh dengan air panas dan sabun, khususnya sebelum makan atau menyiapkan makanan dan setelah menggunakan toilet. Selalu sediakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol untuk berjaga-jaga jika air bersih tidak tersedia.
·         Jangan minum air yang kelihatan kotor. Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah besar di tempat-tempat mewabahnya tifoid. Untuk itu, usahakan minum air dalam kemasan atau air minum berkarbonasi. Bersihkan bagian luar botol atau kaleng sebelum Anda membukanya. Jangan tambahkan es batu ke dalam minuman karena bisa saja es tersebut terbuat dari air yang terkontaminasi.
·         Hindari buah dan sayuran mentah karena bisa jadi dicuci dengan air yang terkontaminasi. Terutama hindari memakan buah atau sayur yang tidak bisa dikupas, misalnya selada.
·         Pilih makanan yang dihidangkan panas-panas. Hindari makanan yang disimpan atau dihidangkan pada suhu ruangan. Makanan yang dikukus panas adalah yang teraman. Dan jika harus makan di luar, sebisa mungkin hanya makan di rumah makan yang terjamin kebersihannya.
2.9 Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan Hematologi, dimana ditemukan penurunan jumlah leukosit (leukopeni) dan limfositosis.
2.      Pemeriksaan Tes Widal, menunjukkan reaksi antibody dan antigen dari bakteri Salmonella. Sensitifitas dan spesifisitas tes Widal tidak tinggi, sehingga bisa memberikan hasil negative pada penderita yang sudah menggunakan antibiotic. Juga bisa memberikan hasil positif palsu pada penyakit demam lainnya, sehingga harus dinilai juga peningkatan titer yang terjadi melalui pemeriksaan serial ulangan.
3.      Pemeriksaan Kultur Darah, Sumsum tulang dan Feces dilakukan pada minggu ke 1 – 2. Pemeriksaan feces juga dapat dilakukan untuk mendeteksi penderita carrier, yaitu penderita yang tidak menunjukkan gejala Demam Tifoid tapi berpotensi menularkan karena bakteri Salmonella typhidikeluarkan dari kandung empedu ke saluran cerna.
4.      Pemeriksaan Tes Tubex, mendeteksi antibody Ig M dan Ig G terhadap antigen Salmonella typhi , dengan sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dibandingkan Tes Widal

















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1.      Identitas Klien
Nama Klien                 : An.T
Tempat/tgl lahir           : Tasikmalaya,06-11-2006
Umur                           : 4,6 tahun
Jenis Kelamin              : Perempuan
Diagnosa Medis          : Thypoid
No Rekam Medis        : 0198092
Tanggal masuk RS      : 10-05-2016

2.      Keluhan Utama
Pasien panas .

3.      Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 10 mei 20011 pukul 19.45 WIB klien di bawa ke IGD RS dengan keluhan panas sejak 5 hari yang lalu,pusing,mual,lemes,.Pada saat di IGD pasien mendapatkan terapy Aminopilin 2x300 g/l, amoxilin g/l, Infus RL 12tpm, puyer (Paracetamol 250mg 3x1).Tanda tanda vital Nadi di IGD; 110 x/mnt, suhu; 40º C, RR ; 16x/mnt. BB: 12Kg
Pada saat dikaji tanggal 11-05-2016 jam 20.00 WIB di ruangan, kondisi klien tampak lemas,akral hangat,pusing,pasien mual,tidak mau makan, tanda tanda vital; S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.

4.      Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1.      Prenatal : Selama kehamilan ibu klien melakukan ANC ke bidan secara teratur sesuai dengan anjuran dari bidan, selama hamil tidak ada keluhan dan penyakit yang diderita ibu klien
2.      Perinatal dan post natal : An.T lahir spontan ditolong bidan, BBL 3,2kg, langsung menangis
3.      Penyakit yang pernah diderita : Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah sakit yang mengharuskan dirawat di RS, baru kali ini.
4.      Hospitalisasi/tindakan operasi : Klien belum pernah mengalami hospitalisasi sebelum sakit yang sekarang.
5.      Injuri/kecelakaan : Ibu klien mengatakan anaknya belum pernah mengalami kecelakaan.
6.      Alergi : Ibu klien mengatakan anaknya tidak mempunyai riwayat alergi demikian juga dengan keluarga, tidak ada yang mempunyai riwayat alergi.
7.      Imunisas : Ibu klien mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
8.      Pengobatan : Apabila klien sakit ibu klien membawa ke bidan atau dokter.


5.      Riwayat Sosial
1.      Yang mengasuh : Yang mengasuh klien adalah ibunya sendiri
2.      Hubungan dengan anggota keluarga : Hubungan dengan keluarga dan orang lain baik, komunikasi  masih belum lancar karena masih dalam taraf perkembangan.
3.      Hubungan dengan teman sebaya : Hubungan dengan teman sebaya baik
4.      Pembawaan secara umum : Klien nampak pendiam, kooperatif, tidak takut dengan petugas

6.      Riwayat Keluarga
1.      Sosial ekonomi  :
Ibu klien sebagai seorang ibu rumah tangga  dan bapak klien sebagai buruh.
2.      Lingkungan rumah :
Ibu klien mengatakan lingkungan rumahnya cukup bersih dan ventilasi udara cukup, lantai rumah dari semen, jumlah jendela 6 buah, tidak ada sumber polusi yang dekat dengan rumahnya
3.      Penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga, saudara yang mempunyai penyakit menular ataupun menurun.

7.      Tingkat Perkembangan Saat Ini
1.      Personal sosial
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa memakai baju, gosok gigi dengan bantuan ibunya, cuci dan mengeringkan tangan, menyebutkan nama temanya.

2.      Motorik halus
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa membuat menara dari 6 kubus,meniru garis vertikal.
3.      Bahasa
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa bicara cukup mengerti, menyebut 4 gambar, mengatakan 2 nama kegiatan
4.      Motorik kasar
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa melompat dan melempar bola lengan ke atas
5.      Interpretasi
Pertumbuhan dan perkembangan normal

8.      Pola Kesehatan Klien
1.      Pemeliharaan kesehatan :
Selama ini apabila anaknya sakit atau ada anggota keluarga yang sakit maka akan priksa ke bidan kalau tidak sembuh dibawa ke dokter ataupun di bawa ke rumahsakit
2.      Nutrisi :
Saat ini klien mendapatkan diet bubur kasar ,ibu klien mengatakan klien susah makan sejak sebelum sakit biasanya hanya makan pagi dan sore saja dan paling hanya 8- 10 sendok makan, pada saat dikaji ibu klien mengatakan klien makan hanya 1-3 sendok. Ibu klien mengatakan anaknya muntah.
3.      Cairan :
Sebelum sakit klien minum susu 1-3 gelas perhari,  selama sakit klien minum susu 1 gelas dan kadang minum air putih serta mendapatkan terapi cairan IV RL.
4.      Aktivitas :
Sebelum sakit klien tidak ada keluhan dalam aktifitasnya, dapat bermain dengan teman-teman sebayanya di rumah, sekarang klien hanya tiduran, tidak bisa beraktifitas seperti biasanya, ADL dibantu oleh ibunya dan perawat.
5.      Tidur dan istirahat :
Sebelum sakit klien tidur sekitar pukul 19.30 s.d 05.00, tidur siang 2x  dengan konsistensi 1 jam , pada saat sakit klien tidur sekitar jam 20.00  sampai jam 05.00, tidur siang sekitar 3 jam dengan konsistensi 1 jam.
6.      Eliminasi :
Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-6x/hari
Pada saat dikaji klien BAB 1x konsistensi padat dan BAK 3-4x/hari
7.      Pola hubungan :
Hubungan dengan orang tua baik, dengan orang lain dan perawat baik.
8.      Koping atau temperamen dan disiplin yang diterapkan :
Orang tua klien memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bermain bersama teman-temannya asalkan tidak melebihi waktunya  beristirahat.
9.      Kognitif dan persepsi :
Tidak ada keluhan tentang penglihatan, penciuman, pendengaran dan perabaan, klien  berumur 4,6 tahun kemampuan kognitifnya baik,.
10.  Konsep diri :
Ibu klien mengatakan pingin anaknya cepat sembuh karena tidak tega melihat anaknya sakit.
11.  Seksual dan menstruasi :
Klien berjenis kelamin perempuan usia 4,6 tahun, belum mengalami menstruasi.
12.  Nilai :
Tidak ada nilai-nilai keluarga yang bertentangan dengan kesehatan.

9.      Pemeriksaan Fisik
1.      Tingkat kesadaran : composmentis.
2.      S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.
3.      BB; 11  kg ,TB; 105 cm , LLA ; 18 cm , LK; 49 cm,LD; 60cm
4.      Kulit :
Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan bersih, turgor kulit menurun
5.      Kepala :
Bentuk mesochepal, warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.
6.      Mata :
Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis
7.      Telinga :
Simetris, discharge (-) bersih, bentuk normal
8.      Hidung :
Simetris, discharge (-), bentuk normal
9.      Mulut :
Simetris, mukosa bibir kering, gigi normal, bersih, karies (-),
Lidah kotor/ putih
10.  Leher :
JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran limponodi.
11.  Dada :
Paru-paru
I           : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada
P          : tidak ada nyeri tekan
P          : sonor
A         : vesikuler

Jantung
S1-S2 murni, tak ada murmur, bising (-).
12.  Payudara :
Tak ada keluhan, simetris.
13.  Abdomen :
I           : terlihat membesar
A         : bunyi bising usus 10x/m
P          : perut kembung, agak keras
P          : bunyi thimpany
13.  Genetalia :
Tak ada keluhan.
14.  Muskuleskeletal :
Tak ada keluhan, pergerakan sendi sesuai jenis, ROM baik.
15.  Neurologi :
Normal, tak ada keluhan.

10.  Pemeriksaan Laboraturium
Pemeriksaan
Hasil
Nilai Normal
Bilirubin Total
0,90 mg/dl
0.00-1.00
Bilirubin direk
0.30 mg/dl
< 0,20
SGOT
22.0 u/l
40.0 u/l
SGPT
23.0 u/l
41.0 u/l
Leukosit
12.61
4.80-10.80
Eritrosit
4.52
4.20- 5.40
Hemoglobin
11,9 g/dl
12-16 g/dl
MCV
77.2
79-99
MCH
34.1 g/dl
33.0-47.0
Trombosit
178x 10 /ul
82.0-95.0
Hbsag
Negative
negatif
Widal
(+)

Hematokrit
34.9 %
37-47 g/dl




11.  Terapi


-        Per-oral
Paracetamol 250 mg   
Ctm                 3x1
Curliv              2x1
-        Per-interal
Ceftriaxon 2x 3 mg
Dexa 3 x2 mg
Sotatic 2x 1 ½
N. 500 /drip
Inffus RL 20 tpm
D5 15 tpm

3.2 Analisa Data
No
Data
Masalah
Etiologi
1
DS : ibu Klien mengatakan anaknya badan nya panas
DO :
1.klien tampak lemas,   
2.akral teraba hangat
3.Suhu: 3880C
4.Nadi: 100x/ menit
5.RR: 20x/ menit
Hipertermi
Proses infekksi salmonella thypi

2
DS:
P: ibu pasien mengatakan anak nya nyeri bila untuk beraktifitas/bergerak hilang apabila saat beristirahat.
Q : ibu  pasien mengatakan nyeri anak  nya seperti ditusuk-tusuk
R: ibu Pasien mengatakan nyeri anak nya pada perut bagian kanan atas.
S: Skala nyeri 4
T: nyeri timbul hingga 5 menit
DO: Wajah pasien tampak menahan nyeri
N :100x/mnt
S : 38 C
RR: 20x/mnt
Ps lemah, ps tampak gelisah, ps merintih kesakitan
Nafsu makan menurun, mual (+)
Konjungtiva  anemis
Akral hangat
Pasien menangis
Nyeri
Proses Inflamasi
3
DS :
- ibu klien mengatakan klien makan susah hanya 1-3 sendok.
- Ibu klien mengatakan anaknya muntah ± 2-3x setiap makan
-ibu Klien mengatakan anaknya badan nya panas
DO :
8.              -klien muntah
9.               -BB : 11 kg
10.               Porsi makan dari RS hanya dimakan 1-3 sendok

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan
Anoreksia ( mual dan muntah)

3.3  Prioritas Masalah
1.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypo
2.      Nyeri b.d proses inflamasi
3.      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)

3.4 Rencana Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
1
Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypo
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan suhu tubuh normal engan KH: Mempertahaankan suhu tubuh dalam batas normal
1.Mengobserfasi  tanda – tanda vital
2.Pantau aktifitas kejang
3.Pantau hidrasi
4.Berikan kompres air biasa
5.Pemberian terapi 0bat anti piretik sesuai program

2
Nyeri b.d proses inflamasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri berkurang,dengan KH:
-Skala  nyeri menjadi 3
-Pasien nampak lebih rileks
-Pasien mampu mengontrol nyeri

a.monitor KU
b.kaji tingkat nyeri intensitas dan skala nyeri
c.jelaskan penyebab nyeri
d.ajarkan teknik distraksi relaksasi(nafas dalam)
e.posisikan pasien senyaman mungkin
f.kolaborasi dengan tim medis  pemberian obat analgesik

3
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam kebutuhan nutrisi adekuat dengan kriteria hasil :
-Klien tidak muntah
-Porsi makan yang disediakan habis

1.Kaji pola dan kebiasaan makan
2.Observasi adanya muntah
3.Menganjurkan keluarga untuk memberi makanan dalam porsi kecil tapi sering dan tidak merangsang produksi asam (biskuit)
4.Memberikan terapi pemberian cairan dan nutrisi sesuai program
5.Memberikan terapi pemberian anti emetik sesuai program


3.4  Implementasi
Diagnosa kep
Implementasi
Respon
Ttd
Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypo
1.Mengukur   tanda – tanda vital
2.Memantau  aktifitas kejang
3.Menganjurkan  keluarga untuk memberikan sedikit minum tapi sering
4.Memberikan kompres hangat
5.Memberikan terapi sesuai program

S: 37,80 C, N: 100x/m, R:20x/m.
Pasien tidak mengalami kejang
Klien sedikit-sedikit mau minum

Pasien dikompres pake air hangat


5.                   Terapi diberikan


Nyeri b.d proses inflamasi
1.Monitor KU / TTV






2.Mengkaji skala nyeri
3.Memberikan posisi yang nyaman.
4.Mengajarkan teknik relaksasi
5.Memberikan motivasi untuk kompres air hangat pada bagian yang sakit
6.Memberikan terapi obat analgesik

Keadaan pasien lemah
N : 100 x/mnt
R : 20 x/mnt
S : 37 C

Skala nyeri 4


terapi masuk


Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
1.Mengkaji pola dan kebiasaan makan
2.Mengobservasi  adanya muntah
3.Menganjurkan keluarga untuk memberi makanan dalam porsi kecil tapi sering dan tidak merangsang produksi asam (biskuit)
4.Memberikan terapi pemberian cairan dan nutrisi sesuai program
5.Memberikan terapi pemberian anti emetik sesuai program

klien makan hanya 1-3sdm

klien sudah muntah 1x
Ibu klien mengatakan anaknya masih susah makan




3.5  Evaluasi
Tanggal
Diagnose kep
Evaluasi
Ttd
18-5-2016
Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypo
S: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak panas
O: klien masih tampak lemas, klien sudah tdak muntah, Suhu: 36 C, Nadi: 90x/ menit, RR: 20x/ menit
A: masalah teratasi sebagian
P: pertahankan intervensi



18-5-2016
Nyeri b.d proses inflamasi
S: ibu Pasien mengatakan ,anak nya sudah tidak nyeri perut
O: pasien nampak rileks
A: Masalah teratasi
P: pertahankan intervensi
Motivasi pasien untuk tetap melakukan teknik relaksasi distraksi (nafas dalam) bila nyeri timbul
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik


18-5-2016
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
S: S: ibu klien mengatakan ,klien setiap habis makan sudah berkurang muntah nya.
O: klien masih muntah 1x, BB : 11kg, Porsi makan dari RS hanya dimakan ¼ porsi
A: masalah teratasi
P: pertahankan intervensi






















BAB IV
PENUTUPAN

4.1  Kesimpulan
Demam tifoid adalah suatu  infeksi akut pada usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000 penduduk per tahun, tersebar dimana-mana, dan ditemukan hamper sepanjang tahun.
Demam tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar, umur 5-9 tahun. Dengan keadaan seperti ini, adalah penting melakukan pengenalan dini demam tifoid, yaitu adanya 3 komponen utama : Demam yang berkepanjangan (lebih dari 7 hari), Gangguan susunan saraf pusat / kesadaran.

4.2  Saran

Dari uraian makalah yang telah disajikan maka kami dapat memberikan saran untuk selalu menjaga kebersih lingkungan , makanan yang dikonsumsi harus higiene dan perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang demam tifoid.




sekian dulu makalah hari ini, salam hangat dari STIKes MItra Kencana Tasikmalaya
Silahkan tinggalkan komentar anda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar