Makalah keperawatan
anak dengan kasus typoid
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Lingkungan yang sehat merupakan
lingkungan yang pertumbuhan bakteri dan virus akan lebih
sedikit untuk berkembang biak. Begitupun dengan bakteri salmonella
typhi penyebab demam tifod akan lebih banyak terdapat pada lingkungan
yang kotor dan tingkat perilaku hidup bersih sehat sangat kurang sehingga kuman
tersebut akan banyak terdapat disana. Kurangnya menjaga kebersihan lingkungan
dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih sehat akan
menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri, khususnya lingkungan mereka akan
lebih rentan terkena penyakit.
Demam
tifoid menjadi masalah kesehatan, yang
umumnya terjadi di negara yang sedang berkembang karena akibat kemiskinan,
kriminalitas dan kekurangan air bersih yang dapat diminum. Demam tifoid
merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella thypi
yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama
terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan
urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi
yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan
Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10
penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah
kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan
jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%, urutan ketiga ditempati oleh DBD
dengan jumlah kasus 77.539 dengan proporsi 3,01% (Depkes RI, 2009).
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian Typhoid ?
2. Apa
penyebab Typhoid ?
3. Bagaimana
tanda dan gejala Typhoid ?
4. Bagaimana
manifestasi klinis dari Typhoid ?
5. Komplikasi
apa saja yang terjadi pada penderita demam Typhoid ?
6. Bagaimana
penanganan atau pencegahan demam Typhoid ?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian demam tifoid
2. Untuk
mengetahui apa saja penyebab dari demam tifoid
3. Untuk
mengetahui gejala dan tanda yang terjadi
pada demam tifoid
4. Untuk
mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid
5. Untuk
mengetahui komplikasi yang disebabkan oleh demam tifoid
6. Untuk
mengetahui pencegahan atau penanganan demam tifoid
BAB
II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1 Pengertian
Thipoid
adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and
Sudart, 1994 ).
Typhoid
adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan
salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan
paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Typhoid
adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi
secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer
Orief.M. 1999).
Demam
typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan
gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan
kesadaran.(Mansjoer, 2000: 432).
Demam
typoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai
denganbakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus,
pembentukanmikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal ileum. Disebabkan
salmonella thypi, ditandaiadanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran
pencernaan dan gangguan kesadaran.(Soegijanto, 2002: 1).
Demam
typoid adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang di awali di selaput lendir
usus,dan jika tidak di obati secara progresif akan menyerbu jaringan di seluruh
tubuh.(Tambayong, 2000: 143).
Demam
typoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi salmonella
typhi.( Ovedoff, 2002: 514).
2.2
Penyebab
Penyakit
tifus disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typhosa, basil gram negatif,
berflagel (bergerak dengan bulu getar), anaerob, dan tidak menghasilkan spora.
Bakteri tersebut memasuki tubuh manusia melalui saluran pencernaan dan manusia
merupakan sumber utama infeksi yang mengeluarkan mikroorganisme penyebab
penyakit saat sedang sakit atau dalam pemulihan. Kuman ini dapat hidup dengan
baik sekali pada tubuh manusia maupun pada suhu yang lebih rendah sedikit,
namun mati pada suhu 70°C maupun oleh antiseptik. Demam tifoid adalah penyakit
infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
(Soedarto, 1996). Terdapat ratusan jenis bakteri salmonella, tetapi hanya 4
jenis yang dapat menimbulkan tifus yaitu:
1. Salmonella
thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora
mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu:
a. antigen
O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida) : merupakan polisakarida
yang sifatnya spesifik untuk grup Salmonella dan berada pada permukaan
organisme dan juga merupakan somatik antigen yang tidak menyebar
b. antigen
H : terdapat pada flagella dan dan bersifat termolabil
c. antigen
V1 (merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O
terhadap fagositosis) dan protein membrane hialin.
2. Salmonella
parathypi A
3. salmonella
parathypi B
4. Salmonella
parathypi C
2.3 Patofisiologi
Penularan
salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F
yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly
(lalat), dan melalui Feses.
Feses
dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat,
dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.
Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci
tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang
yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman
akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian
distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel
retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke
dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk
limpa, usus halus dan kandung empedu.
Demam
tifoid disebabkan karena Salmonella Typhosa dan endotoksinnya merangsang
sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Zat
pirogen ini akan beredar dalam darah dan mempengaruhi pusat termoregulator di
hipotalamus yang menimbulkan gejala demam.
2.4
Tanda dan Gejala
Pada
penderita yang terkena penyakit demam tipoid, biasanya akan terlihat gejala dan
tanda yang terjadi, yaitu :
1.
Demam berkepanjangan,
pada penderita demam tipoid akan di temukan demam yang lebih dari 7 hari.
gejala ini merupakan gejala paling menonjol dari penyakit demam tipoid. demam
biasanya di ikuti dengan gejala yang tidak khas, seperti anoreksia ( susah menelan ) atau batuk -
batuk. dan biasanya demam akan muncul pada waktu sore hari sampai malam
hari, dan akan menurun pada waktu pagi
hari dan siang hari.
2.
Gangguan Saluran
Pencernaan, kuman salmonella typhi merupakan kuman yang menyerang pada saluran
pencernaan, sehingga pada demam ini akan terjadi gangguan saluran cerna. gejala
yang sering timbul adalah konstipasi (yaitu sulit buang air besar) atau
obtipasi. namun terkadang juga bisa di temukan pasien dengan gejala diare.
gejala lain pada saluran pencernaan yang kadang terjadi adalah mual, muntah,
dan perasaan tidak enak diperut.
3.
Gangguan Kesadaran,
pada kondisi yang gawat biasanya pasien akan mengalami gangguan kesadaran
ringan, seperti apatis, sopnolen hingga bisa koma.
4.
Tipoid tag yaitu gejala
berupa lidah kotor terutaman di tengah sedangkan pinggir lidah akan terlihat
merah.
5.
Bradikardi relatif,
yaitu penurunan nadi pada waktu demam yang seharusnya secara fisiologis terjadi
takikardi.
Jika dilihat dari Waktunya Gejala dan tanda tipoid
dapat di bagi menjadi :
·
Minggu pertama ( masa terinfeksi,
setelah masa inkubasi lebih dari 10 hari ), gejala yang akan timbul adalah :
1. Demam perlahan.
2. Bradikardi relatif / bisa juga
takikardi.
3. Malaise.
5. Hidung berdarah.
6. Leukopenia.
7. Konstipasi / diare
·
Minggu ke dua, gejala yang akan
timbul adalah :
1. Demam " nervous fever "
2. Rose spot atau kemerahan di tubuh.
3. Diare / konstipasi.
4. Bradikasdi relatif.
·
Minggu ke tiga, gejala yang akan
timbul adalah :
1. Pendarahan Intestinal, biasanya gara
- gara terlepasnya ulkus di usus penderita.
2. Perforasi intestinal.
4. Namun jika pasien tidak di tangani
secara adekuat, maka akan bisa terjadi penyakit seperti ensefalitis,
endokarditis, kolesistitis. abses metastak.
·
Minggu ke empat, merupakan masa
penyembuhan hingga menjadi karrier.
2.5 Manifestasi Klinik
1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya
terlihat segar namun menjelang malamnya demam
tinggi.
2. Lidah
kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan
merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3. Mual
Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa,
Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi
rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk
secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare
atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan
penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus
justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas,
pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing.
Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6. Pingsan,
Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring
tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi
gangguan kesadaran.
2.6 Komplikasi Yang Dapat
Terjadi
1. Di
usus halus
Umumnya
jarang terjadi, namun sering fatal, yaitu :
a. Perdarahan
usus
Diagnosis dapat
ditegakkan dengan :
v Penurunan
TD dan suhu tubuh
v Denyut
nadi bertambah cepat dan kecil
v Kulit
pucat
v Penderita
mengeluh nyeri perut dan sangat iritabel
b. Perforasi
usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau
setelah itu dan terjadi pada bagian distal ileum.
c. Peritonitis
Pada umumnya
tanda gejala yang sering didapatkan:
v Nyeri
perut hebat
v Kembung
v Dinding
abdomen tegang (defense muskulair)
v Nyeri
tekan
v TD
menurun
v Suara
bising usus melemah dan pekak hati berkurang
Pada
pemeriksaan darah tepi didapatkan peningkatan lekosit dalam waktu singkat.
2. Diluar
usus halus
a. Bronkitis,
terjadi pada akhir minggu pertama.
b. Bronkopneumonia,
kasus yang berat bilamana disertai infeksi sekunder
c. Kolesistitis
d. Tifoid
ensefalopati, gejala : kesadaran menurun, kejang-kejang, muntah, demam tinggi
e. Meningitis,
gejala : bayi tidak mau menetek, kejang, letargi, sianosis, panas, diare,
kelainan neurologis.
f. Miokarditis
g. Karier
kronik
2.7 Penanganan dan
Pengobatan
1.
Pasien tanpa komplikasi
dapat diobati secara rawat jalan. Mereka harus disarankan untuk menggunakan
teknik mencuci tangan yang ketat dan untuk menghindari menyiapkan makanan untuk
orang lain selama sakit. Rawat pasien harus ditempatkan di isolasi kontak
selama fase akut infeksi. Tinja dan urine harus dibuang secara aman.
2. Pengobatan
penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif
melipu+ti istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung penyulit
yang terjadi). Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat
penyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas
demam atau kurag lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai
dengan pulihnya kekuatan pasien.
3. Diet
dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.
Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini
yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat
kasar) dapat diberikan dengan aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral
untuk mendukung keadaan umum pasien.
4. Pada
penderita penyakit tifus yang berat, disarankan menjalani perawatan di rumah
sakit. Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit tifus. Waktu
penyembuhan bisa makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.
5. Tifus
dapat berakibat fatal. Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol,
trimethoprim-sulfamethoxazole, dan ciproloxacin sering digunakan untuk merawat
demam tipoid di negara-negara barat. Obat-obat pilihan pertama adalah
kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua
adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem,
azithromisin dan fluorokuinolon. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50
mg/kg BB/hari, terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14
hari. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol , diber
ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian,
intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari, atau amoksisilin dengan
dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, oral/intravena
selama 21 hari kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi dalam
2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
6. Pada
kasus berat, dapat diberi seftriakson dengan dosis 50 mg/kg BB/kali dan
diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari, sekali sehari, intravena, selama
5-7 hari. Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan antibiotika adalah
meropenem, azithromisin dan fluoroquinolon.
7. Bila
tak terawat, demam tifoid dapat berlangsung selama tiga minggu sampai sebulan.
Kematian terjadi antara 10% dan 30% dari kasus yang tidak terawat. Vaksin untuk
demam tifoid tersedia dan dianjurkan untuk orang yang melakukan perjalanan ke
wilayah penyakit ini biasanya berjangkit (terutama di Asia, Afrika, dan Amerika
Latin).
8. Pengobatan
penyulit tergantung macamnya. Untuk kasus berat dan dengan manifestasi
nerologik menonjol, diberi Deksametason dosis tinggi dengan dosis awal 3 mg/kg
BB, intravena perlahan (selama 30 menit). Kemudian disusul pemberian dengan
dosis 1 mg/kg BB dengan tenggang waktu 6 jam sampai 7 kali pemberian.
Tatalaksana bedah dilakukan pada kasus-kasus dengan penyulit perforasi usus
9. Pembedahan
biasanya dilakukan dalam kasus perforasi usus. Kebanyakan ahli bedah lebih suka
sederhana penutupan perforasi dengan drainase peritoneum. Kecil usus reseksi
diindikasikan untuk pasien dengan perforasi ganda.
2.8
Pencegahan
·
Cuci tangan Anda berulang
kali.
Ini adalah cara terbaik untuk menghentikan penularan bakteri. Cucilah tangan
secara menyeluruh dengan air panas dan sabun, khususnya sebelum makan atau
menyiapkan makanan dan setelah menggunakan toilet. Selalu sediakan hand
sanitizer berbahan dasar alkohol untuk berjaga-jaga jika air bersih tidak
tersedia.
·
Jangan minum air yang kelihatan kotor. Air minum yang terkontaminasi
merupakan masalah besar di tempat-tempat mewabahnya tifoid. Untuk itu, usahakan
minum air dalam kemasan atau air minum berkarbonasi. Bersihkan bagian luar
botol atau kaleng sebelum Anda membukanya. Jangan tambahkan es batu ke dalam
minuman karena bisa saja es tersebut terbuat dari air yang terkontaminasi.
·
Hindari buah dan sayuran mentah karena bisa jadi dicuci dengan air
yang terkontaminasi. Terutama hindari memakan buah atau sayur yang tidak bisa
dikupas, misalnya selada.
·
Pilih makanan yang dihidangkan panas-panas. Hindari makanan yang disimpan atau
dihidangkan pada suhu ruangan. Makanan yang dikukus panas adalah yang teraman.
Dan jika harus makan di luar, sebisa mungkin hanya makan di rumah makan yang
terjamin kebersihannya.
2.9
Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan Hematologi,
dimana ditemukan penurunan jumlah leukosit (leukopeni) dan limfositosis.
2.
Pemeriksaan Tes Widal,
menunjukkan reaksi antibody dan antigen dari bakteri Salmonella. Sensitifitas
dan spesifisitas tes Widal tidak tinggi, sehingga bisa memberikan hasil
negative pada penderita yang sudah menggunakan antibiotic. Juga bisa memberikan
hasil positif palsu pada penyakit demam lainnya, sehingga harus dinilai juga
peningkatan titer yang terjadi melalui pemeriksaan serial ulangan.
3.
Pemeriksaan Kultur
Darah, Sumsum tulang dan Feces dilakukan pada minggu ke 1 – 2. Pemeriksaan
feces juga dapat dilakukan untuk mendeteksi penderita carrier, yaitu penderita
yang tidak menunjukkan gejala Demam Tifoid tapi berpotensi menularkan karena
bakteri Salmonella typhidikeluarkan dari kandung empedu ke saluran cerna.
4.
Pemeriksaan Tes Tubex,
mendeteksi antibody Ig M dan Ig G terhadap antigen Salmonella typhi , dengan
sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dibandingkan Tes Widal
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1.
Identitas Klien
Nama Klien :
An.T
Tempat/tgl
lahir : Tasikmalaya,06-11-2006
Umur :
4,6 tahun
Jenis Kelamin :
Perempuan
Diagnosa Medis : Thypoid
No Rekam Medis :
0198092
Tanggal masuk RS : 10-05-2016
2. Keluhan Utama
Pasien panas .
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 10 mei 20011 pukul 19.45 WIB klien di bawa ke IGD RS dengan keluhan panas sejak 5 hari yang lalu,pusing,mual,lemes,.Pada saat di
IGD pasien mendapatkan terapy Aminopilin 2x300 g/l, amoxilin g/l, Infus RL
12tpm, puyer (Paracetamol 250mg 3x1).Tanda tanda vital Nadi di IGD; 110 x/mnt, suhu; 40º C, RR ; 16x/mnt. BB: 12Kg
Pada saat dikaji tanggal 11-05-2016 jam 20.00 WIB di ruangan, kondisi klien tampak
lemas,akral hangat,pusing,pasien
mual,tidak mau makan, tanda tanda vital; S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1. Prenatal : Selama kehamilan ibu
klien melakukan ANC ke bidan secara teratur sesuai dengan anjuran dari bidan, selama hamil tidak ada keluhan dan
penyakit yang diderita ibu klien
2. Perinatal dan post natal : An.T lahir spontan ditolong bidan, BBL 3,2kg, langsung menangis
3. Penyakit yang pernah diderita : Ibu
klien mengatakan anaknya tidak pernah sakit yang mengharuskan dirawat di RS, baru
kali ini.
4. Hospitalisasi/tindakan operasi : Klien
belum pernah mengalami hospitalisasi sebelum sakit yang sekarang.
5. Injuri/kecelakaan : Ibu klien
mengatakan anaknya belum pernah mengalami kecelakaan.
6. Alergi : Ibu klien mengatakan
anaknya tidak mempunyai riwayat alergi demikian juga dengan keluarga, tidak ada
yang mempunyai riwayat alergi.
7. Imunisas : Ibu klien mengatakan anaknya
sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
8. Pengobatan : Apabila klien sakit ibu
klien membawa ke
bidan atau dokter.
5.
Riwayat Sosial
1. Yang mengasuh : Yang mengasuh klien
adalah ibunya sendiri
2. Hubungan dengan anggota keluarga : Hubungan
dengan keluarga dan orang lain baik, komunikasi masih belum lancar karena masih
dalam taraf perkembangan.
3. Hubungan dengan teman sebaya : Hubungan
dengan teman sebaya baik
4. Pembawaan secara umum : Klien nampak
pendiam, kooperatif, tidak takut dengan petugas
6.
Riwayat Keluarga
1. Sosial ekonomi :
Ibu klien sebagai seorang ibu rumah tangga dan bapak klien
sebagai buruh.
2. Lingkungan rumah :
Ibu klien mengatakan lingkungan
rumahnya cukup bersih dan ventilasi udara cukup, lantai rumah dari semen,
jumlah jendela 6 buah, tidak ada sumber polusi yang dekat dengan rumahnya
3. Penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga, saudara
yang mempunyai penyakit menular ataupun menurun.
7.
Tingkat Perkembangan Saat Ini
1. Personal sosial
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa
memakai baju, gosok gigi dengan bantuan ibunya, cuci dan mengeringkan tangan,
menyebutkan nama temanya.
2. Motorik halus
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa
membuat menara dari 6 kubus,meniru garis vertikal.
3. Bahasa
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa
bicara cukup mengerti, menyebut 4 gambar, mengatakan 2 nama kegiatan
4. Motorik kasar
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa
melompat dan melempar bola lengan ke atas
5. Interpretasi
Pertumbuhan dan perkembangan normal
8.
Pola Kesehatan Klien
1. Pemeliharaan kesehatan :
Selama ini apabila anaknya sakit
atau ada anggota keluarga yang sakit maka akan priksa ke bidan kalau tidak sembuh
dibawa ke dokter ataupun di bawa ke rumahsakit
2. Nutrisi :
Saat ini klien mendapatkan
diet bubur kasar
,ibu klien
mengatakan klien susah makan sejak sebelum sakit biasanya hanya makan pagi dan
sore saja dan paling hanya 8- 10 sendok makan, pada saat dikaji ibu klien
mengatakan klien makan hanya 1-3 sendok. Ibu klien mengatakan anaknya muntah.
3. Cairan :
Sebelum sakit klien minum susu 1-3
gelas perhari, selama sakit klien minum susu 1 gelas dan kadang
minum air putih serta mendapatkan terapi cairan IV RL.
4. Aktivitas :
Sebelum sakit klien tidak ada
keluhan dalam aktifitasnya, dapat bermain dengan teman-teman sebayanya di rumah, sekarang klien hanya tiduran, tidak bisa beraktifitas seperti biasanya,
ADL dibantu oleh ibunya dan perawat.
5. Tidur dan istirahat :
Sebelum sakit klien tidur sekitar
pukul 19.30 s.d 05.00, tidur siang 2x dengan
konsistensi 1
jam , pada saat sakit klien tidur sekitar jam 20.00 sampai jam 05.00, tidur siang sekitar 3 jam dengan
konsistensi 1
jam.
6. Eliminasi :
Sebelum sakit
klien biasanya BAB 1x
/hari BAK:
4-6x/hari
Pada saat
dikaji klien BAB 1x konsistensi padat dan BAK 3-4x/hari
7. Pola hubungan :
Hubungan dengan orang tua baik,
dengan orang lain dan perawat baik.
8. Koping atau temperamen dan disiplin
yang diterapkan :
Orang tua klien memberikan kebebasan
kepada anaknya untuk bermain bersama teman-temannya asalkan tidak melebihi
waktunya beristirahat.
9. Kognitif dan persepsi :
Tidak ada keluhan tentang
penglihatan, penciuman, pendengaran dan perabaan, klien berumur 4,6 tahun kemampuan kognitifnya baik,.
10. Konsep diri :
Ibu klien
mengatakan pingin anaknya cepat sembuh karena tidak tega melihat anaknya sakit.
11. Seksual dan menstruasi :
Klien berjenis kelamin perempuan
usia 4,6 tahun,
belum mengalami menstruasi.
12. Nilai :
Tidak ada nilai-nilai keluarga yang
bertentangan dengan kesehatan.
9.
Pemeriksaan Fisik
1. Tingkat kesadaran : composmentis.
2. S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.
3. BB; 11 kg ,TB; 105 cm , LLA ;
18 cm , LK; 49 cm,LD; 60cm
4. Kulit :
Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan
bersih, turgor kulit
menurun
5. Kepala :
Bentuk mesochepal, warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.
6. Mata :
Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis
7. Telinga :
Simetris, discharge (-) bersih, bentuk normal
8. Hidung :
Simetris, discharge (-), bentuk normal
9. Mulut :
Simetris, mukosa bibir kering, gigi normal, bersih, karies (-),
Lidah kotor/ putih
10. Leher :
JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran limponodi.
11. Dada :
Paru-paru
I :
Simetris, tidak ada
retraksi dinding dada
P : tidak
ada nyeri tekan
P :
sonor
A : vesikuler
Jantung
S1-S2 murni, tak ada murmur, bising (-).
12. Payudara :
Tak ada keluhan, simetris.
13. Abdomen :
I :
terlihat membesar
A :
bunyi bising usus 10x/m
P :
perut kembung,
agak keras
P :
bunyi thimpany
13. Genetalia :
Tak ada keluhan.
14. Muskuleskeletal :
Tak ada keluhan, pergerakan sendi sesuai jenis, ROM baik.
15. Neurologi :
Normal, tak ada keluhan.
10. Pemeriksaan Laboraturium
Pemeriksaan
|
Hasil
|
Nilai Normal
|
Bilirubin Total
|
0,90 mg/dl
|
0.00-1.00
|
Bilirubin direk
|
0.30 mg/dl
|
< 0,20
|
SGOT
|
22.0 u/l
|
40.0 u/l
|
SGPT
|
23.0 u/l
|
41.0 u/l
|
Leukosit
|
12.61
|
4.80-10.80
|
Eritrosit
|
4.52
|
4.20- 5.40
|
Hemoglobin
|
11,9 g/dl
|
12-16 g/dl
|
MCV
|
77.2
|
79-99
|
MCH
|
34.1 g/dl
|
33.0-47.0
|
Trombosit
|
178x 10 /ul
|
82.0-95.0
|
Hbsag
|
Negative
|
negatif
|
Widal
|
(+)
|
|
Hematokrit
|
34.9 %
|
37-47 g/dl
|
11. Terapi
|
-
Per-oral
Paracetamol 250 mg
Ctm 3x1
Curliv 2x1
-
Per-interal
Ceftriaxon 2x 3 mg
Dexa 3 x2 mg
Sotatic 2x 1 ½
N. 500 /drip
Inffus RL 20 tpm
D5 15 tpm
3.2
Analisa Data
No
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
1
|
DS
: ibu Klien mengatakan
anaknya badan nya panas
DO :
1.klien tampak
lemas,
2.akral teraba hangat
3.Suhu: 3880C
4.Nadi: 100x/ menit
5.RR: 20x/ menit
|
Hipertermi
|
Proses infekksi salmonella thypi
|
2
|
DS:
P: ibu pasien mengatakan anak nya nyeri bila untuk beraktifitas/bergerak
hilang apabila saat beristirahat.
Q : ibu pasien mengatakan nyeri anak nya
seperti ditusuk-tusuk
R: ibu Pasien mengatakan nyeri anak nya pada perut
bagian kanan atas.
S: Skala nyeri 4
T: nyeri timbul hingga 5 menit
DO: Wajah pasien tampak menahan nyeri
N :100x/mnt
S : 38 C
RR: 20x/mnt
Ps lemah, ps tampak gelisah, ps merintih kesakitan
Nafsu makan menurun, mual (+)
Konjungtiva anemis
Akral hangat
Pasien menangis
|
Nyeri
|
Proses
Inflamasi
|
3
|
DS
:
-
ibu klien mengatakan klien makan susah hanya 1-3 sendok.
- Ibu klien mengatakan anaknya muntah ± 2-3x setiap makan
-ibu Klien mengatakan anaknya badan nya
panas
DO
:
8. -klien muntah
9. -BB : 11 kg
10.
Porsi
makan dari RS hanya dimakan 1-3 sendok
|
Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan
|
Anoreksia
( mual dan muntah)
|
3.3
Prioritas
Masalah
1. Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi salmonella thypo
2. Nyeri
b.d proses inflamasi
3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual
& muntah)
3.4
Rencana Keperawatan
No
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
1
|
Hipertermi
b.d proses infeksi salmonella thypo
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan suhu tubuh normal
engan KH: Mempertahaankan suhu tubuh dalam batas normal
|
1.Mengobserfasi
tanda – tanda vital
2.Pantau aktifitas kejang
3.Pantau hidrasi
4.Berikan
kompres air biasa
5.Pemberian
terapi 0bat anti piretik sesuai program
|
2
|
Nyeri
b.d proses inflamasi
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan nyeri berkurang,dengan KH:
-Skala nyeri menjadi 3
-Pasien nampak lebih rileks
-Pasien mampu mengontrol nyeri
|
a.monitor KU
b.kaji tingkat nyeri intensitas dan skala nyeri
c.jelaskan penyebab nyeri
d.ajarkan teknik distraksi relaksasi(nafas dalam)
e.posisikan pasien senyaman mungkin
f.kolaborasi dengan tim medis pemberian obat
analgesik
|
3
|
Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam kebutuhan nutrisi adekuat
dengan kriteria hasil :
-Klien
tidak muntah
-Porsi
makan yang disediakan habis
|
1.Kaji pola dan kebiasaan makan
2.Observasi adanya muntah
3.Menganjurkan keluarga untuk
memberi makanan dalam porsi kecil tapi sering dan tidak merangsang produksi
asam (biskuit)
4.Memberikan terapi pemberian
cairan dan nutrisi sesuai program
5.Memberikan terapi pemberian anti emetik sesuai program
|
3.4
Implementasi
Diagnosa kep
|
Implementasi
|
Respon
|
Ttd
|
Hipertermi
b.d proses infeksi salmonella thypo
|
1.Mengukur tanda
– tanda vital
2.Memantau aktifitas kejang
3.Menganjurkan
keluarga untuk memberikan sedikit minum tapi sering
4.Memberikan
kompres hangat
5.Memberikan
terapi sesuai program
|
S: 37,80 C, N: 100x/m, R:20x/m.
Pasien
tidak mengalami kejang
Klien
sedikit-sedikit mau minum
Pasien
dikompres pake air hangat
5.
Terapi diberikan
|
|
Nyeri
b.d proses inflamasi
|
1.Monitor KU /
TTV
2.Mengkaji
skala nyeri
3.Memberikan
posisi yang nyaman.
4.Mengajarkan
teknik relaksasi
5.Memberikan motivasi
untuk kompres air hangat pada bagian yang sakit
6.Memberikan
terapi obat analgesik
|
Keadaan
pasien lemah
N : 100
x/mnt
R : 20
x/mnt
S : 37 C
Skala
nyeri 4
terapi
masuk
|
|
Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
|
1.Mengkaji pola dan kebiasaan
makan
2.Mengobservasi adanya
muntah
3.Menganjurkan keluarga untuk
memberi makanan dalam porsi kecil tapi sering dan tidak merangsang produksi
asam (biskuit)
4.Memberikan terapi pemberian
cairan dan nutrisi sesuai program
5.Memberikan terapi pemberian
anti emetik sesuai program
|
klien makan hanya 1-3sdm
klien
sudah muntah 1x
Ibu
klien mengatakan anaknya masih susah makan
|
3.5
Evaluasi
Tanggal
|
Diagnose kep
|
Evaluasi
|
Ttd
|
18-5-2016
|
Hipertermi
b.d proses infeksi salmonella thypo
|
S: ibu klien mengatakan anaknya
sudah tidak panas
O: klien masih tampak lemas, klien sudah tdak muntah, Suhu:
36 C, Nadi: 90x/ menit, RR: 20x/ menit
A: masalah teratasi sebagian
P: pertahankan intervensi
|
|
18-5-2016
|
Nyeri
b.d proses inflamasi
|
S: ibu Pasien mengatakan ,anak nya sudah tidak nyeri
perut
O: pasien nampak rileks
A: Masalah teratasi
P: pertahankan intervensi
Motivasi pasien untuk tetap melakukan teknik relaksasi
distraksi (nafas dalam) bila nyeri timbul
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik
|
|
18-5-2016
|
Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual & muntah)
|
S:
S: ibu klien mengatakan ,klien setiap habis makan sudah berkurang muntah nya.
O: klien masih muntah 1x, BB : 11kg, Porsi makan dari RS
hanya dimakan ¼ porsi
A: masalah teratasi
P:
pertahankan intervensi
|
BAB IV
PENUTUPAN
4.1
Kesimpulan
Demam
tifoid adalah suatu infeksi akut pada
usus kecil yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Di Indonesia
penderita demam tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000 penduduk per
tahun, tersebar dimana-mana, dan ditemukan hamper sepanjang tahun.
Demam
tifoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak
besar, umur 5-9 tahun. Dengan keadaan seperti ini, adalah penting melakukan
pengenalan dini demam tifoid, yaitu adanya 3 komponen utama : Demam yang
berkepanjangan (lebih dari 7 hari), Gangguan susunan saraf pusat / kesadaran.
4.2
Saran
Dari uraian makalah yang telah disajikan maka kami
dapat memberikan saran untuk selalu menjaga kebersih lingkungan , makanan yang
dikonsumsi harus higiene dan perlunya penyuluhan kepada masyarakat tentang
demam tifoid.
sekian dulu makalah hari ini, salam hangat dari STIKes MItra Kencana Tasikmalaya
Silahkan tinggalkan komentar anda


Tidak ada komentar:
Posting Komentar